RSS

Easy to say LOVE: is it a gift or a curse?

17 Apr

There’s nothing certain in this world but the uncertainty itself,” tiba-tiba terlintas di pikiranku. Tidak ada yang pasti di dunia ini selain ketidakpastian itu sendiri. Dengan kata lain, semua tidak ada yang pasti. Pemikiran seperti ini tentunya tidak muncul begitu saja tanpa ada yang melatarbelakanginya. Ada banyak hal sebetulnya yang menjadi alasan kenapa aku berpikir seperti ini. Tapi bisa dibilang hal-hal itu berkaitan dengan apa yang orang-orang sering sebut sebagai “cinta”. Kalau aku lebih suka menyebutnya sebagai “perasaan”, karena ketika orang diminta mendefinisikan apa itu cinta, jawabannya bisa macam-macam dan semua bisa jadi benar, sesuai dengan konteksnya masing-masing. Perasaan yang kumaksud adalah rasa tertarik akan lawan jenis, hasrat ingin memilikinya sebagai teman hidup. Taruhlah seperti itu. Dan perasaan ini, seiring berjalannya waktu aku semakin pasti akan ketidakpastiannya. Aku sering berpikir, “Aku bisa saja yakin kalo dia adalah orang yg tepat, tapi aku tidak yakin kalo perasaan ini tidak akan berubah.” Yak, begitulah apa yang aku rasakan. Seakan tidak pasti. Namun ketidakpastian di sini mestinya tidak selalu dianggap negatif yang seolah tanpa tujuan yang jelas, tanpa pegangan yang kuat, mempermainkan perasaan, atau hal-hal jelek yang lain. Akan tetapi lebih merupakan bukti ke-fleksibilitas-an dari perasaan itu sendiri. Betapa mudahnya perasaan itu untuk berubah. Ini bukan hanya sekedar teori atau filosofi tanpa bukti. Setidaknya dari sekelumit kejadian sehari-hari, dalam hal ini yang terkait dengan “perasaan”, memanglah seperti itu. Seperti lagunya Iwan Fals yang bilang, “Aku cinta kau saat ini. Entah esok hari. Entah…” itu benar-benar terjadi. Awalnya aku mengira lagu ini mengisyaratkan ketidaksungguhan hubungan. Bukannya merayu sengan kata-kata penuh pengharapan dan janji berbunga-bunga, lagu ini justru, menurutku, menghadirkan realita. Entah sudah berapa kali aku “jatuh cinta” atau lebih aman aku bilang “memiliki perasaan” terhadap lawan jenis dengan kriteria ketertarikan yang bermacam-macam.

Suatu saat misalnya, aku pernah mengungkapkan perasaanku kepada adik kelas semasa SMP. Dengan bermodalkan memori seadanya tentang masa-masa itu, kuajak dia bernostalgia dan untungnya dia ingat apa yang aku ingat. Alhasil kita nyambung, bahkan sangat nyambung. Ketika terasa nyambung inilah, seperti niatku dari awal, aku tembak dia. Aku bilang begini-begini, nyambung, cocok dan sebagainya, hingga akhirnya dia menerima, meskipun tidak sejelas kalau dua orang bertatap muka. Sehari berselang kami SMS-an, ya iseng-iseng aja kadang, tanya kabar, sudah makan apa belum, semacam itu. Di luar dugaan, entah pada hari keberapa, sepertinya 3 hari setelah “jadian”, aku berubah. Aku merasa dia bukanlah sosok yang aku cari. Setelah kupikir-pikir, daripada ujung-ujungnya tidak jelas, dengan penjelasan secukupnya, aku minta putus, atau istilahnya “dibatalkan”. Kalau ingat niat awalku yang menggebu-gebu, jadi lucu, kok tiba-tiba sekarang semua berubah. Bisa disebut ini “cinta tiga hari”. Lebih lama dari cintanya Melinda yang cuma satu malam.

Di saat yang lain, aku juga pernah tertarik kepada seorang cewek, teman dari temanku. Setelah aku lihat foto dia di Facebook aku add dia, dan diterima. Tidak lama setelah itu kami langsung berkomunikasi lewat komen foto. Kami saling memberi komentar pada foto di album masing-masing. Lagi-lagi semua terasa nyambung. Hingga obrolan kami lanjut ke YM. Berjam-jam hingga larut malam kami berbagi cerita. Semua terasa sempurna, tepat seperti yang aku harapkan. Karena nyambung dan sebagainya inilah akhirnya aku putuskan untuk nembak dia. Lagi, dia terima, pun tidak sejelas kalau misalnya kita bertemu muka langsung. Entah apa yang terjadi, esok harinya begitu terbangun dari tidur, semua yang terjadi semalam terasa seperti mimpi. Tidak ada lagi hasrat menggebu. Keyakinan akan sosok si dia yang tampak sangat sempurna untuk menjadi yang terpilih, hilang. Tidak ada komunikasi di antara kami. Mungkin kami sama-sama menunggu. Entahlah. Hingga setelah beberapa hari dia kirim message minta maaf. Aku malah bingung, yang salah sebenarnya siapa. Jadi aku pun minta maaf. Dan semua selesai hari itu juga. Untuk kasus ini, bisa disebut “cinta satu malam”. Persis seperti lagunya Melinda.

Di kesempatan yang lain, lebih lama durasinya. Kayaknya ada sebulanan. Suatu hari ada seorang cewek meminta pertemanan di FB. Aku terima dan kami mulai berhubungan. Setelah ngobrol sana-sini, kami tukeran nomor handphone. Kami sering telpon-telponan. Lagi-lagi, semua terasa nyambung dan kami semakin dekat. Dan ya gitu deh, lagi-lagi ada ketertarikan dan ternyata semua berubah, akunya yang berubah. Ya begitulah.

Lalu sekarang bagaimana? Ini yang paling penting. Perlu diketahui bahwasanya ketika menulis ini pun, aku sedang memiliki rasa itu kepada seseorang (ato mungkin lebih dari satu orang :p). Dan belajar dari pengalaman-pengalaman itu, aku sekarang tidak akan gegabah. Beras mahal. (*itu gabah)

 
4 Comments

Posted by on April 17, 2011 in Lifestyle, Renungan

 

4 responses to “Easy to say LOVE: is it a gift or a curse?

  1. Decci

    April 24, 2011 at 11:31 pm

    *pertamax*

    ahihihi ini postingannya lucu banget. ya saya sependapat mas, kalo realitanya rasa ketertarikan itu memang bisa hilang kapan saja tapi juga bisa bertahan lama. jadi kisah cinta semacam romeo juliet itu sepertinya cenderungnya ada di fiksi *opinipribadi*

    kalo boleh berpendapat sih, kesannya cenderung excited dengan proses mengenal dan mendekati tetapi ketika sudah memiliki, ehrasa xcitementnya jadi hilang dan ga tahu lagi apa yang bisa ‘dikejar’. ahahaha. *soktau*

     
    • Mr Bee

      April 25, 2011 at 4:23 pm

      “tapi juga bisa bertahan lama.”
      ………………………………………………

      Kalo menurutku itu jg sebenarnya sama, dimana sebuah hubungan akan selalu mengalami naik turun, klimaks, lalu bosan, dan siklus itu berulang lg mulai dari awal,,hanya saja hubungan itu menjadi “tahan lama” karena siklus itu terjadi dg orang/pasangan yg sama..dan itu bisa terjadi biasanya karena sudah adanya yg sering kita sebut sbg “komitmen” di antara keduanya..tp ketika komitmen itu gak kuat ya,,selingkuh..haha

      “kalo boleh berpendapat sih, kesannya cenderung excited dengan proses mengenal dan mendekati tetapi ketika sudah memiliki, ehrasa xcitementnya jadi hilang dan ga tahu lagi apa yang bisa ‘dikejar’. ”

      Setuju! begitulah manusia,,rumput tetangga selalu tampak lebih hijau….padahal bisa jadi rumput dia di mata orang lain dianggap sudah sangat hijau..haha

       
  2. indria

    October 9, 2011 at 3:42 pm

    hehehe… Mr. Burhan, katahuan deh rahasianya…

     
    • Mr Bee

      October 28, 2011 at 7:22 pm

      weh ada bu Merry,,jadi pengen malu nih….:D

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: